Refleksi Pendidikan di hari guru tahun 2025
Mengajar Lebih dari Buku dan Layar
oleh :
Harisal, S.Si.., Gr.
Profesi guru sangat identik dengan peran mendidik seperti
membimbing, membina, mengasuh ataupun mengajar. Guru memiliki peran yang jauh
lebih luas daripada sekadar mengajar materi pelajaran dan menyampaikan isi
buku. Mereka juga bertanggung jawab dalam menanamkan nilai-nilai dasar
pengembangan karakter siswa. Membangun karakter dan kecerdasan sosial-emosional
siswa juga menjadi tanggung jawab guru, khususnya di tengah kemajuan teknologi
digital yang pesat. Sebagai seorang guru, saya sangat merasakan bagaimana
mengajar di tengah kepungan arus informasi dan teknologi yang tiap hari bertumbuh
seperti berkejaran menuntut setiap individu terus beradaptasi dan meningkatkan
kemampuan literasi digital agar tidak tertinggal oleh perubahan yang begitu
cepat.
Dampak dari perkembangan teknologi ini adalah siswa yang seolah
olah latah dalam mengikuti hal-hal yang terlihat kekinian, tanpa
mempertimbangkan manfaat ataupun dampaknya bagi diri mereka, mereka mudah
terbawa arus tren yang viral, hanya karena ingin dianggap tidak tertinggal
zaman, sehingga sering kali mengabaikan nilai, etika maupun tujuan belajar yang
sebenarnya. Kondisi ini seperti dua mata pisau, di satu sisi siswa cepat
memahami informasi tapi disisi lain mereka mudah terpengaruh pada hal-hal yang
bersifat dangkal, impulsif atau bahkan negatif sehingga dibutuhkan sosok guru
dalam mengawal proses perkembangan siswa, bukan hanya sebagai penyampai materi,
tetapi juga sebagai penuntun yang membantu mereka membedakan mana informasi yang
bermanfaat dan mana informasi yang hanya mengikuti arus tren sesaat.
Di era digital ini rasa-rasanya sebagai seorang guru, tidak hanya
cukup memahami materi ajar yang ada dalam buku atau mengikuti informasi
kekinian yang disajikan di internet pada layar hp atau pc dalam berbagai
platform, tetapi lebih dari itu seorang guru harus mampu menjadi benteng yang
menguatkan karakter siswa. Guru perlu hadir sebagai pembimbing yang menanamkan
nilai moral, membentuk sikap kritis dalam menyaring informasi, serta menuntun
siswa agar tidak mudah terpengaruh oleh arus tren yang belum tentu membawa
kebaikan. Guru tidak hanya mencerdaskan secara intelektual tetapi juga
membangun karakter yang kokoh dan bijaksana dalam menghadapi derasnya
perkembangan teknologi.
Dalam beberapa kesempatan
saat berkunjung ke rumah orang tua siswa dalam program home visit saya
melihat beragam dinamika keluarga yang menarik, termasuk adanya kekhawatiran
orang tua terkait prilaku anak mereka akibat pengaruh dunia digital, khususnya games
online. Banyak yang mengeluhkan anak yang semakin sulit diatur, kurang
fokus belajar, hingga mengalami perubahan emosi karena terlalu larut dalam
permainan daring. Kekhawatiran ini menunjukkan betapa pentingnya peran bersama
antara guru dan orang tua untuk mengarahkan anak agar mampu memanfaatkan
teknologi secara sehat dan bertanggung jawab. Era digital adalah sesuatu yang
tidak bisa dihindari saat ini dan hal-hal yang dibawanya juga tidak selalu
bersifat negatif, banyak hal-hal positif yang dapat dimanfaatkan, seperti akses
informasi yang luas, kemudahan belajar, serta peluang untuk mengembangkan
kreativitas dan keterampilan abad 21. Namun, semua itu tetap membutuhkan
kemampuan untuk memilih, memilah dan menggunakan teknologi secara bijak agar
manfaatnya lebih besar daripada mudaratnya. Islam sendiri mengajarkan
pentingnya menggunakan akal dan ilmu dengan benar, sebagaimana firman Allah dal
QS. Az-Zumar ayat 9 :
“…katakanlah
:’apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui ? sesungguhnya hanya orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran.”
Ayat
ini mengingatkan bahwa setiap kemajuan, termasuk teknologi digital, seharusnya
digunakan dengan ilmu, kebijaksanaan dan kesadaran agar membawa kebaikan bagi
diri dan lingkungan.
Anak-anak yang menempuh proses
pendidikan pada era digital ini mereka tidak akan pernah kekurangan informasi
atau materi pelajaran, sehingga guru tidak perlu sibuk mengajar dari buku paket
atau menyajikan materi di papan tulis secara detail, berikan kesempatan mereka
untuk menemukan sendiri materi pelajarannya, guru hanya perlu menjadi
fasilitator dan pembimbing, membimbing siswa dalam menyeleksi informasi yang
benar, mendorong mereka berpikir kritis, serta menanamkan nilai-nilai dan
pemahaman yang mendalam sehingga pengetahuan yang diperoleh tidak hanya sekedar
hafalan, tetapi juga bermanfaat dalam kehidupan nyata.
Hal yang sejujurnya membuat saya
prihatin sebagai guru di era digital ini adalah bagaimana kejadian-kejadian di
dalam sekolah sangat mudah terekspos keluar, sehingga memunculkan berbagai
presepsi publik terkait dunia pendidikan saat ini, beberapa pihak menganggap
dunia pendidikan saat ini dalam kondisi yang memprihatikan dengan banyaknya
tindakan-tindakan yang dianggapnya sebagai tindakan anarkis yang dilakukan oleh
oknum guru, seperti yang akhir-akhir ini viral seorang guru menendang siswanya
karena ketahuan merokok, kejadian ini tentu menimbulkan reaksi keras di
masyarakat, namun jika kita melihat dari dua sisi, perlu juga dipahami tekanan
dan tanggung jawab guru dalam menegakkan disiplin dan membimbing siswa agar tidak
terjerumus pada prilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Sayangnya, berita seperti ini sering kali digiring terlalu jauh melalui media
sosial, sehingga menimbulkan presepsi yang berlebihan dan kurang adil terhadap
profesi guru secara keseluruhan.
Ki Hajar Dewantara pernah berkata “didiklah
anak-anak sesuai zamannya, karena mereka hidup di zaman itu, bukan di zamanmu.”
Kalimat ini seakan memberikan penegasan kepada seluruh guru bahwa proses
pendidikan itu mengikuti tuntutan zaman, jika saat ini kita berada dalam era
digital maka seharusnya guru mampu memanfaatkan teknologi untuk membimbing
siswa secara efektif, sekaligus menanamkan nilai-nilai karakter dan etika yang
kuat. Di tengah banyaknya tindakan kriminalisasi guru yang terjadi akhir-akhir
ini, guru tetap harus kuat, bijaksana dan professional, menjaga integritas
serta dedikasi dalam mendidik generasi muda. Sesuai tema Hari Guru Nasional
2025, “Guru Hebat, Indonesia Kuat”, peran guru menjadi kunci dalam mencetak
generasi yang cerdas, berkarakter dan mampu membawa Indonesia menjadi bangsa
yang tangguh dan maju.
Mendidik tanpa bersuara adalah
slogan yang sangat filosofis bagi seorang guru, slogan tersebut memiliki arti
bahwa keteladanan adalah bentuk yang paling nyata, apa yang dilakukan guru
sehari-hari akan lebih diingat dan ditiru oleh murid daripada sekadar nasihat
atau perintah. Di dalam ruang kelas sering kali saya mengamati bagaimana
seorang siswa berinteraksi dengan temannya yang lainnya, pola interaksinya sebagian
besar dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya terutama di rumah dan hal-hal
yang sedang viral di jagat maya atau media sosial sehingga peran guru menjadi
salah-satu faktor penting dalam membentuk sikap, karakter dan cara
bersosialisasi siswa di sekolah. Dengan kehadiran dan contoh yang konsisten dari
guru tentu akan mampu mengisi celah yang mungkin tidak diperoleh siswa di
lingkungan rumah atau hal-hal yang ditiru dalam media sosial, sehingga
interaksi sosial mereka menjadi lebih sehat dan harmonis.
Dalam diskusi lepas dengan rekan
guru, banyak yang menyampaikan kekhawatirannya terkait moral peserta didik saat
ini, menurut mereka sering kali karakter yang ditunjukkan siswa telah melewati
batas prilaku sopan santun dan hal yang paling sering saya dengar menganggap
bahwa kejadian ini adalah dampak dari kebebasan siswa dalam mengakses berbagai
hal di internet. Mereka pun terkadang membandingkan dirinya di masa lalu ketika
masih duduk di bangku sekolah, bagaimana mereka begitu memperhatikan adab di
hadapan gurunya. Namun sebagai guru yang hidup di era digital, muncul
pertanyaan : apakah tepat membandingkan diri kita di masa lalu dengan generasi
yang hidup di masa sekarang ?. Setiap masa memiliki napasnya sendiri,
tantangannya sendiri, dan bentuk ujian moral yang berbeda, apa yang bagi kita adalah
kenangan kedisiplinan, bagi mereka mungkin adalah pergulatan untuk menemukan
arah di tengah kebisingan dunia digital.
Setiap masa melahirkan anak-anak
dengan cara pandang baru, dibentuk oleh teknologi, budaya, dan arus informasi
yang berbeda dari yang pernah kita alami. Masa lalu kita bukanlah tolak ukur
mutlak, melainkan cermin yang membantu kita memahami perjalanan, bukan menilai
generasi yang tengah bertumbuh. Dan tugas kita bukan menuntut mereka menjadi
seperti kita dulu, melainkan membimbing mereka agar menemukan nilai, adab, dan
jati diri dalam dunia yang jauh lebih cepat, lebih terhubung, namun juga lebih
rapuh. Kita sebagai guru yang mengabdikan diri dalam era digital ini perlu
mencari cara agar anak-anak yang hidup di era ini tidak hanya terpapar dalam
arus keburukan, misinformasi, dan perilaku negatif yang begitu mudah menyebar
di dunia maya. Justru merekalah yang harus kita bimbing menjadi penebar “virus”
kebaikan, nilai, etika dan tindakan positif yang mampu menginfluence banyak
orang dan mengimbangi gelombang konten yang menyesatkan.
Guru adalah representatif pendidikan
Indonesia, keteladanan dan keprofesionalan dalam mendidik menjadi salah satu
indikator kualitas pendidikan suatu negara. Guru adalah publik figur yang digugu
dan ditiru bukan hanya siswa tapi masyarakat luas sehingga ketika ada
kasus unmoral yang dilakukan oleh guru maka bukan hanya yang mengalaminya
merasa terluka tetapi masyarakat luas akan sangat kecewa karena ekspektasi
mereka terhadap guru begitu tingginya sehingga setiap perilaku guru seolah
menjadi cermin yang memantulkan wajah pendidikan bangsa, retaknya integritas
seorang guru dapat meretakkan kepercayaan publik terhadap sistem pendidikan itu
sendiri. Guru memang bukan malaikat yang selalu sempurna dalam menjalankan
perannya, tapi di pundaknya melekat tanggungjawab moral untuk terus berusaha
menjadi versi terbaik dari dirinya setiap hari, karena dari tutur, sikap dan
pilihanyalah generasi masa depan belajar tentang arti integritas, empati dan kebijaksanaan.
Di sesi akhir tulisan ini saya ingin
menyampaikan harapan agar dunia pendidikan di era digital ini khususnya di
Indonesia, agar bisa lebih adaptif dan mampu memanfaatkan hal-hal positif untuk
mendukung proses belajar mengajar. Semoga guru-guru terus menjadi teladan yang
hebat, professional dan tangguh dalam membimbing generasi muda, seperti judul
tulisan ini “Mengajar lebih dari buku dan layar” sejatinya saya
ingin menyampaikan bahwa tugas guru bukan hanya mengajarkan materi melalui
buku, layar atau gadget, tetapi lebih dari itu, yakni membimbing karakter siswa,
menanamkan nilai-nilai moral, membentuk sikap kritis, dan menyiapkan mereka
menjadi pribadi yang tangguh, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi
masyarakat. Guru hadir bukan sekadar sebagai penyampai informasi, tetapi
sebagai teladan dan pembimbing yang membantu siswa menavigasi dunia digital
dengan bijak serta mengembangkan potensi mereka secara utuh. Guru di era
digital ini perlu terus berinovasi bukan hanya dalam hal transfer ilmu tetapi
juga bagaimana mereka bisa berinovasi dalam menemukan cara dalam melakukan
transfer adab sehingga siswa tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga
memiliki integritas, empati, dan etika dalam berinteraksi di ruang digital maupun
di kehidupan nyata.
Komentar
Posting Komentar