Humanis Pendidikan

Karena Mata Anak-Anak Itu Penuh Cinta

Harisal 

Saya seorang guru. Kalimat itu terdengar sederhana, namun di baliknya tersimpan perjalanan panjang tentang bertahan, meragukan diri sendiri, lalu bangkit kembali. Ada hari-hari ketika saya datang ke sekolah dengan langkah berat, membawa lelah yang belum sempat pulang, dan pikiran yang masih dipenuhi soal-soal kehidupan. Namun setiap kali saya berdiri di ambang pintu kelas dan menatap wajah-wajah kecil di hadapan saya, sesuatu di dalam diri saya kembali hidup. Mata anak-anak itu polos, jujur, dan penuh cinta selalu berhasil mengalahkan segala keinginan untuk menyerah.

Ruang kelas bagi saya bukan sekadar tempat bekerja. Ia adalah ruang perjumpaan, ruang belajar tentang manusia, dan ruang untuk memahami arti pengabdian. Di sanalah saya menyadari bahwa mengajar bukan hanya tentang menyampaikan materi, melainkan tentang hadir sepenuhnya. Anak-anak datang dengan cerita masing-masing, ada yang membawa keceriaan, ada yang menyimpan kesedihan, ada yang haus perhatian, dan ada pula yang belajar bertahan lebih keras daripada usianya. Ketika mereka memandang saya, saya tahu mereka tidak hanya menunggu pelajaran, tetapi juga menunggu penerimaan.

Sering kali, kelelahan datang lebih cepat daripada semangat. Tugas menumpuk, administrasi tak pernah selesai, dan tuntutan seolah terus bertambah. Ada saat-saat ketika saya bertanya, apakah semua ini sepadan. Namun di tengah kelelahan itu, selalu ada hal kecil yang menyentuh, sapaan sederhana di pagi hari, senyum malu-malu ketika dipanggil namanya, atau mata berbinar saat akhirnya memahami satu konsep. Hal-hal kecil itulah yang menjadi pengingat bahwa kehadiran saya berarti.

Saya bertahan karena anak-anak itu memandang saya dengan cara yang berbeda. Mereka tidak melihat kekurangan saya sebagai beban, tetapi sebagai bagian dari manusia yang bisa dipercaya. Mereka tidak menuntut saya selalu benar, hanya ingin saya tetap ada. Dalam tatapan mereka, saya menemukan keikhlasan yang jarang saya temui di dunia orang dewasa. Cinta mereka tidak rumit, tidak bersyarat, dan tidak menuntut balasan. Ia hadir begitu saja, tulus, dan menguatkan.

Menjadi guru berarti belajar tentang kesabaran tanpa batas. Saya mengulang penjelasan yang sama berkali-kali, menahan emosi ketika hasil tak sesuai harapan, dan belajar memahami bahwa setiap anak memiliki waktu tumbuhnya sendiri. Ada yang cepat memahami, ada yang harus dipeluk dengan kesabaran lebih panjang. Dalam proses itu, saya belajar mengecilkan ego dan membesarkan empati. Anak-anak mengajarkan saya bahwa keberhasilan bukan soal siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang tidak ditinggalkan.

Ada hari-hari ketika ruang kelas terasa sunyi, bukan karena tak ada suara, tetapi karena hati sedang lelah. Di hari-hari seperti itu, saya mengajar dengan sisa tenaga dan doa yang sederhana: semoga hari ini cukup. Dan entah bagaimana, selalu ada anak yang datang membawa cahaya. Entah melalui pertanyaan polos, cerita singkat, atau sekadar duduk rapi mendengarkan. Mereka seolah tahu kapan guru mereka sedang rapuh, lalu hadir dengan caranya sendiri untuk menguatkan.

Saya bertahan karena saya tahu, bagi sebagian anak, sekolah adalah satu-satunya tempat aman. Di sanalah mereka belajar bahwa mereka berharga, bahwa suara mereka didengar, dan bahwa kesalahan bukan akhir segalanya. Jika saya menyerah, mungkin ada satu hati kecil yang kehilangan pegangan. Pikiran itu membuat saya kembali berdiri, kembali tersenyum, dan kembali percaya bahwa apa yang saya lakukan memiliki makna.

Menjadi guru juga berarti menerima bahwa tidak semua usaha akan terlihat hasilnya hari ini. Ada benih-benih yang baru tumbuh bertahun-tahun kemudian. Saya mungkin tidak selalu menyaksikan keberhasilan mereka, tetapi saya percaya. Percaya bahwa setiap kata baik, setiap kesabaran, dan setiap perhatian akan menemukan jalannya sendiri. Keyakinan itulah yang membuat saya tetap bertahan, meski terkadang tanpa tepuk tangan.

Anak-anak mengajarkan saya makna cinta yang sesungguhnya. Cinta yang hadir dalam bentuk sederhana: mendengarkan dengan sungguh-sungguh, menyebut nama dengan penuh hormat, dan memberi kesempatan kedua tanpa mengungkit masa lalu. Dari mereka, saya belajar bahwa bertahan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian yang paling sunyi.

Maka jika suatu hari ada yang bertanya mengapa saya masih memilih menjadi guru, jawabannya tetap sama. Saya bertahan karena mata anak-anak itu penuh cinta. Cinta yang membuat lelah terasa layak, air mata terasa berarti, dan setiap pagi memiliki alasan untuk dimulai kembali. Selama masih ada tatapan penuh harap di ruang kelas, saya akan tetap di sini mengajar, belajar, dan mencintai, dengan cara saya yang sederhana namun setia.

 


Komentar